agnessekar.com

My Thought About This World

RSS
people

IDEOLOGI PATRIAKHI DAMPAKNYA DALAM KEHIDUPAN PEREMPUAN DI KALIMANTAN TENGAH

IDEOLOGI PATRIARKI: DAMPAKNYA DALAM KEHIDUPAN PEREMPUAN KALIMANTAN TENGAH DAN MASYARAKAT SECARA UMUM

I. Pendahuluan
Konsep gender adalah salah satu instrumen analisis yang digunakan untuk studi perempuan. Menurut konsep gender, perempuan dan laki-laki bukan merupakan fenomena biologis, tetapi merupakan hasil konstruksi kultural yang bisa berubah-ubah dan bebas nilai. Ide bahwa alam adalah takdir, dan bahwa perempuan karena daya prokreatifnya bertanggung jawab terhadap urusan rumah tangga, pengasuhan dan pemelihara yang secara alamiah merupakan seks yang lemah, mempengaruhi dunia ilmu pengetahuan dan cara pandang masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Cara pandang yang demikian, menurut Simone de Beauvoir(1947) merupakan realitas biologis yang ditafsirkan secara kultural.
Adanya perbedaan wilayah kerja, wilayah publik dan domestik, menurut kaum feminis radikal, semakin memperkuat dominasi laki-laki atas perempuan, yang sekaligus memenjarakan dan meminggirkan kaum perempuan dari peran publik atau sosial. Menurut Fakih(1997:85) penciptaan dikotomi ini(publik & domestik) merupakan ciri khas dan cara kerja sistem patriarki. Bagi kaum feminis, akar penyebab ketidakadilan gender berasal sesungguhnya dari pewarisan ideologi patriarki yang mengagungkan kaum laki-laki.
Patriarki, sebagai sebuah sistem yang sangat koheren selalu dianggap sebagai salah satu sebab dari timbulnya pensubordinasian dan pendiskriminasian terhadap perempuan. Gayle Rubin(1975) dalam Wieringa, (1999) mengemukakan apa yang dinamakannya dengan sex gender system, seks yang bersifat alamiah lalu menjadi gender yang bersifat kultural.

II. Pengertian Ideologi Patriarki
Patriarki merupakan sebuah sistem otoritas yang berdasarkan kekuasaan laki-laki tersosialisasi melalui lembaga-lembaga sosial, politik, dan ekonomi. Lembaga keluarga dipandang sebagai institusi otoritas sang “Bapak”, dimana pembagian kerja berdasarakan gender dan opresi terhadap perempuan disosialisasikan dan diproduksi. Keluarga sarat dengan muatan-muatan ideologis dan kepentingan kelas yang berkuasa, yaitu laki-laki(Ollenburger, 1996:39-40).

read more »

5 Comments |

PENGENTASAN KEMISKINAN DI KALIMANTAN TENGAH

1. Latar Belakang Masalah

Secara geografis Kalimantan Tengah terdiri atas hutan, sungai dan danau. Sungai merupakan urat nadi transportasi masyarakat yang berada di daerah pedalaman dan hulu-hulu sungai. Sedangkan prasarana jalan darat yang sangat minim dan dewasa ini sedang diintensifkan pembangunannya. Kondisi inilah yang memperlambat proses pembangunan di daerah-daerah terpencil dan terisolasi karena alasan transportasi yang lambat dan mahal apabila harus melalui sungai. Akibatnya masyarakat yang berada di daerah pedalaman, hulu dan pinggir-pinggir sungai ikut terkena imbas dari keterbelakangan pembangunan tersebut, yaitu berupa serba terbatasnya pelayanan sosial, ekonomi, budaya, dan politik bagi masyarakat setempat.

Kemiskinan adalah fenomena utama yang sangat menarik dan kasat mata pada masyarakat yang kebetulan bermukim jauh dari pusat pemerintahan atau di pinggir kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, dan lain-lain. Kemiskinan (ekonomi) lebih didominasi oleh masyarakat yang bermukim di sepanjang DAS, tepi pantai(nelayan) dan daerah pedalaman. Alasan utama penyebab kemiskinan menurut masyarakat setempat adalah tidak adanya lapangan usaha yang menetap atau menjanjikan, terutama setelah kegiatan penebangan liar dilarang oleh pemerintah. Usaha pertanian tanaman pangan seperti perladangan berpindah sulit diandalkan karena keterbatasan lahan yang subur, harga karet dan rotan kuranmg stabil, sementara harga kebutuhan pokok merangkak naik setiap tahunnya. Dari hasil observasi di lapangan, khususnya di sepanjang DAS dan daerah pedalaman Kalimantan Tengah, jumlah penghasilan dan pengeluaran sangat tidak sebanding. Banyak keluarga miskin yang makan dua kali sehari, makan hanya dengan daun singkong(ubi kayu) atau sarapan pagi hanya dengan nasi dan teh panas. Kebiasaan hemat masih belum membudaya. Hal ini dapat dilihat dari pola hidup masyarakat yang hura-hura, minum tuak/baram, main judi, dan pemakaian listrik yang berlebihan. Di samping itu dalam satu rumah pada umumnya dihuni oleh 2-4 KK yang sama-sama miskin, dan kondisi sanitasi yang sangat memperihatinkan. Ketergantungan masyarakat pada mata pencaharian yang bersifat instan seperti illegal logging dan illegal mining dan judi sangat tinggi, dan sebaliknya kegiatan ekonomi yang lamban seperti peladang berpindah kurang dapat diandalkan lagi karena lahan semakin terbatas dan kurang subur. Demikian juga rotan dan karet sudah mulai menurun hasilnya. Dana BLT dan Kompensasi BBM juga kurang bermanfaat bagi masyarakat karena tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan masyarakat.

2. Kondisi Umum Provinsi Kalimantan Tengah

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2003 total luas wilayah Kalimantan Tengah adalah 153,567 km²(15.356.700 Ha) atau 1,5 kali luas pulau Jawa dengan jumlah penduduk 1.935.669(hampir 2 juta jiwa) atau 553.057 KK. Perbandingan luas wilayah dengan jumlah penduduk adalah 12 jiwa /km². Kemudian sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2002 Provinsi Kalimantan Tengah memiliki 13 kabupaten dan 1 kota, 95 kecamatan, 123 kelurahan, 1.183 desa dan 66 buah kedamangan. Dari ke 13 kabupaten tersebut, 7 kabupaten sebagian wilayahnya bersentuhan dengan pesisir laut Jawa, sedangkan 6 kabupaten lainnya dan 1 kota berada di daerah dataran rendah, namun sedikit berbukit serta dilalui oleh aliran sungai-sungai besar Sungai Barito, Sungai Kahayan, Sungai Kapuas, Sungai Mentaya, Sungai Arut, Sungai Lamandau, dan lain-lain.

read more »

16 Comments |

TEHNIK BERPIDATO

Pidato adalah penyampaian gagasan, pikiran atau informasi serta tujuan dari pembicara kepada orang lain(audience) dengan cara lisan. Pidato juga bisa diartikan sebagai the art of persuasion, yaitu sebagai seni membujuk/mempengaruhi. Berpidato ada hubungannya dengan retorika(rhetorica), yaitu seni menggunakan bahasa dengan efektif. Berpidato bukanlah suatu pekerjaan yang sederhana karena dalam berpidato menyangkut beberapa unsur penting seperti: pembicara, pendengar, tujuan dan isi pidato, persiapan, terknik dan etika dalam berpidato.

I. Tujuan Pidato

Diantara tujuan dari pidato, yaitu: (a)informatif, bertujuan memberikan laporan/ pengetahuan atau sesuatu yang menarik untuk pendengar; (b)persuasif and instruktif, berisi tentang usaha untuk mendorong, meyakinkan dan mengajak audience untuk melakukan sesuatu hal; (c)edukatif, berupaya menekankan pada aspek-aspek pendidikan, misalnya tentang pentingnya hidup sehat, ber KB, hidup rukun antar umat bergama dan lain-lain; (d)entertain, bertujuan memberikan penyegaran kepada audience yang sifatnya lebih santai.

read more »

28 Comments |

PEREMPUAN DAN POLITIK

Apakah Politik Itu?

Secara terminologi, politik adalah upaya/siasat/perjuangan/taktik/teknik/metode/cara untuk mendapatkan kekuasaan atau untuk mencapai tujuan(Soekanto, 1983). Kamus Besar Bahasa Indonesia(1989) mendefiniskan politik adalah segala urusan dan tindakan(kebijakan, siasat) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain. Beberapa istilah yang berhubungan dengan politik adalah:

(a) politik buka kran: kebijakan untuk menyediakan segala kebutuhan hidup sebanyak-banyaknya.

(b) Politik burung unta: tidak mau menghadapi kesulitan

(c) Politik dagang sapi: tawar menawar antara beberapa partai politik dalam menyusun suatu kabinet koalisi

(d) Politik kampung: daya upaya mencapai tujuan dengan sasaran melalui masyarakat di kampung-kampung

(e) Politik kancil: main cerdik dengan segala macam tipu daya

Sesungguhnya politik itu adalah suatu upaya atau perjuangan yang dilakukan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintahan untuk mendapatkan kekuasaan atau tujuan tertentu. Sadar atau tidak sadar, kita semua sesungguhnya pemain politik. Hanya saja kita kadang tidak sadar kalau kita sudah berpolitik dengan isteri/suami, dengan anak-anak, dengan tetangga, dengan atasan, dengan bawahan, dengan teman sejawat, dengan pembantu, dengan siswa, dengan mahasiswa dan lain-lain. Misalnya, ada seorang suami menelpon isterinya dari kantor: “ Mah kayanya aku mungkin pulang malam, soalnya banyak tugas yang harus aku selesaikan.” Padahal, suami pulang malam bukan karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tapi ada janji dengan selingkuhnya di sebuah hotel. Contoh lain lagi ada seorang ibu dengan menangis meminjam uang kepada tetangga atau temannya. Tapi setelah dipinjami, langsung menghilang dan sulit sekali ditemui. Apalagi pada masa – masa pilkada sekarang ini. Pasangan calon dan tim sukses menggunakan segala cara untuk memenangkan pasangannya. Ada yang menggunakan simbol agama, suku, dan kebudayaan untuk menarik simpati para pemilih.

II.

Apakah politik itu baik atau tidak?

read more »

No Comments |

MENDOBRAK KEBODOHAN

jika kita lihat pada saat ini banyak kegiatan hari hari bersejarah kaum perempuan dirayakan sebagai seremonial yang sebagian besar berkaitan dengan perempuan. Kegiatan tersebut kurang relevan dengan situasi/kondisi masa kita yang mengarah kepada zaman moderen yang didukung oleh teknologi canggih. Dalam memperingati hari Kartini, masih banyak yang mengadakan kegiatan : memasak, memasang dasi pada suami, merangkai bunga, peragaan kebaya dan sanggul dll. Mengapa kegiatan tersebut tidak diisi dengan berbagai kegiatan yang lebih moderen dan profesional misalnya : Berpidato dalam bahasa Indonesi dan Inggris, Perlombaan mengetik dengan Format yang profesional, Tentang membaca puisi, lomba lawak dll.
Kalau kita mau kritis mengkaji cita-cita Kartini un tuk kaum perempuan, satu hal yang teramat penting adalah PENDIDIKAN Kartini sadar bahwa satu-satunya jalan untuk bangkit dari kebodohan dan kekolotan hanyalah melalui pendidikan. Itu sebabnya dalam salah satu surat Kartini kepada sahabatnya di Belanda ( Tuan Abendanon ) ia mengutarakan keinginannya untuk sekolah ke Belanda pada tingkat yang lebih tinggi, seperti halnya saudara Kartini yang laki-laki.
Tapi sayang tradisi Jawa saat itu yang dikatakan oleh Kartini sebagai tradisi kolot, mengalahkan cita-cita Kartini yang sangat mulia. Kartini boleh meninggal dunia untuk selama-lamanya, tapi untuk cita-cita dan semangat Kartini tidak boleh kita lupakan. Kita harus bangkit dari kebodohan dan kekolotan tradisi dengan pendidikan. Semangat Kartini masih membara dalam benak kaum perempuan bahwa pendidikan adalah kunci untuk kemajuan. Seperti pada saat ini pemerintah kita sangat intens pada bidang pendidikan ini seperti misalnya disisihkan dana untuk setiap anggaran pada SKPD sebanyak 20%. Semangat tersebut diperkuat lagi oleh semangat Ki Hadjar Dewantara tokoh pendidikan Nasional. Sebenarnya antara Kartini dan Ki Hadjar Dewantara tidak ada perbedaan dalam semangat mereka untuk mengentaskan rakyat dari kebodohan. Demikian juga pada saat ini banyak kita jumpai Pimpinan yang melulu sibuk hanya dengan kegiatan rutin : menghadiri undangan, membalas surat, rapat, membuat laporan, tapi tanpa memikirkan membuat program-program baru yang membawa ke pembaharuan, yang membawa perubahan, semua kegiatan hanya copy paste dari pimpinan sebelumnya, sehingga tidak ada perubahan, dari tahun- ke tahun ya begitu- begitu saja, prinsipnya yang penting ada kegitan sudah cukup. Tidak memikirkan apakah kegitan itu masih sesuai dengan masa kini atau tidak pokoke copy paste selesai.
Pada intinya pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan perilaku serta proses pendewasaan seseorang. Untuk memperoleh pendidikan dimaksud hanya dapat dilakukan melalui 3 jalur :
1. Jalur pendidikan Formal yaitu segenap bentuk pendidikan yang diberikan secara terorganisasi dan berjenjang seperti { SD,SMP,SMA dan PT }
2. Jalur Pendidikan Non Formal, yaitu segenap bentuk pendidikan/pelatihan yang diberikan secara terorganisasi diluar pendidikan formal, seperti kursus-kursus, pelatihan dan magang.
3. Jalur Pendidikan Informal yaitu pendidikan atau pelatihan yang terdapat dalam keluarga atau dalam masyarakat, namun tidak terorganisasi. Misalnya praktek membuat kue, pakaian, obat tradisional, mendidik anak-anak, pendidikan seks, membuat taman yang asri, tehnik berpidato, managemen rumah tangga, pengelolaan keuangan dll, berdasarkan buku-buku bacaan, surat khabar, majalah, media masa elektronik, seperti televisi, internet, radio atau dari teman dekat/sahabat dll. Pokoknya kalau perempuan tidak mau terpuruk dalam kebodohan maka ia harus memiliki komitmen yang kuat untuk melawan kebodohan yang ada pada dirinya sendiri dengan meningkatkan keterampilan melalui salah satu jalur pendidikan diatas. Sebab hanya pendidikan kita bisa maju, bisa bangkit dari kebodohan dan kemiskinan serta kekolotan. Pendidikan yang akan merubah pola pikir yang kolot/tradisional menjadi berpikir dengan cara moderen dan sesuai dengan tuntutan zaman. Perempuan moderen itu paling tidak memiliki 3 B dan 1 S yang artinya :
B pertama Brain. Brain menunjukkan tingkat kecerdasan sesorang. Disini mengisyaratkan betapa pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan, agar mereka bisa memilki kecerdasan, intelektual, kreatifitas, daya kritik, memiliki wawsan yang luas, serta pendirian yang teguh.
B Kedua Behavior Artinya seorang perempuan harus mempunyai kepribadian yang tangguh, perilaku terpuji,dan memiliki etika yang mapan.
B Ketiga Beauty. Disamping memiliki kecerdasan dan Kepribadian yang tangguh seorang perempuan juga harus menjaga inner beautynya.
Artinya sekalipun seorang perempuan kurang cantik secara fisik namun ia bisa menampilkan kecantikan yang lain yang muncul dari dalam dirinya sebagai akibat dari kecerdasan dan kepribadian yang telah ia miliki. Sebagai contoh ada seorang perempuan secara fisik memang kurang menarik/cantik, tapi karena ia adalah perempuan yang bisa mengembangkan potensi dirinya secara aktif, penuh kreatifitas, sopan santun dan rendah hati, sehingga membuat daya tarik tersendiri pada dirinya.Ia berani tampil beda dengan mengandalkan potensi diri yang dimilikinya dengan penuh percaya diri.
Dan S adalah Spiritual, Artinya perempuan yang cerdas, berkepribadian dan cantik harus dilengkapi dengan iman, yaitu nilai-nilai agama yang dimilikinya. Agama adalah penuntun kehidupan kita pada perilaku yang baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan. GBU.

No Comments |