
Globalisasi kata ini sering didengung-dengungkan mulai dari pakar ekonomi, sampai penjual sayur di pasar. Dalam kata globalisasi tsb. Tercantum makna hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakkan barang dan jasa antar Negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dalam perdagangan, tidak boleh ada lagi proteksi ataupun monopoli.
Dengan terbukanya satu Negara terhadap Negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa tetapi juga teknologi, pola komsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain..
Globalisasi, mesti diakui, adalah “mantra” baru bagi siapa pun yang memasuki arena wacana publik. Ketika globalisasi telah berubah menjadi mantra, maka banyak orang terus melafalkannya seraya mengharap datangnya keajaiban maupun menolak bala yang bakal menjelang. Apa boleh buat, istilah yang terlanjur popular, sebagaimana halnya globalisasi ini, membuat kita terperosok dalam kekaburan makna. Globalisasi jadi mirip “keranjang besar”yang mewadahi konsep atau pengertian apa pun. Bahkan, globalisasi dengan gampang menjadi “kambing hitam” bagi pelbagai problem sosial, ekonomi dan politik yang menyusup ke dalam retorika para elit politik.
David Held membantu kita memilah sikap terhadap globalisasi itu: hiperglobalis, skeptis dan transformasionalis. Bagi kaum hiperglobalis, globalisasi telah menjadikan negara (pemerintahan nasional) tidak lagi relevan karena telah digantikan oleh pasar global. Sementara bagi kaum skeptis, apa yang disebut dengan pasar global sebagai sesuatu yang berlebih-lebihan karena pemerintahan nasional tetap berperan dalam melancarkan proses liberalisasi ekonomi. Globalisasi, tidak seperti sangkaan banyak kalangan, justru kian memarginalkan negara-negara selatan. Terakhir, di mata kaum transformasionalis, globalisasi merupakan kekuatan utama di balik derasnya proses perubahan masyarakat modern yang mengubah tatanan dunia
Ketika negara mengalami keterpurukan ekonomi, maka masyarakat yang paling rentan menanggung beban tersebut adalah perempuan. Dalam masyarakat kita, perempuan atau para istri masih kuat berfungsi sebagai pengelola manajemen rumah tangga. Para istrilah yang mengelola keuangan rumah tangga, mengatur kebutuhan harian yang menyangkut pangan (makan), sandang (pakaian) dan papan. Karena itu, ketika para suami tidak mampu lagi menopang ekonomi keluarga, maka para istrilah yang rela ‘berkorban’ meninggalkan anak dan keluarga untuk bertahan dengan hidupnya, misalnya dengan menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri dan di kota-kota besar. Selain itu, para perempuan pun masuk ke dalam sektor kerja yang sebetulnya kurang ada perlindungan terhadap mereka, misalnya menjadi pekerja seks maupun pekerja hiburan. Tetapi semua pekerjaan itu harus dilakukan perempuan yang tidak memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak, karena dirinya dan mungkin keluarganya harus bisa survive di tengah-tengah pusaran kemiskinan. Inilah barangkali yanglobalisasi menimbulkan perusakan serius pada kesadaran diri, tingkat peradaban, kemasyarakatan dan etnis. Globalisasi bagai buah simalakama, di satu sisi bisa dianggap memberi kesempatan dan keberuntungan, namun di sisi lain membawa kemalangan.
Kendati demikian, negara-negara maju tampaknya sangat menikmati keberuntungan dari globalisasi. Sementara negara-negara miskin dan negara berkembang harus berjuang menghadapi kerugian-kerugian. Indonesia , misalnya, harus dengan susah payah mencari peluang dalam persaingan dan pasar yang kejam, yang acap kali tidak memerhatikan tataran yang sama dan adil. Namun, jika kita kaji secara lebih kritis, sesungguhnya ada satu isu penting yang belum menjadi agenda penting perjuangan gerakan perempuan di Tanah Air, yang sesungguhnya potensial memapankan bentuk patriarkat baru, yakni kapitalisme global, otoritarianisme, dan militerisme. Ekspansi kapitalisme global telah melahirkan berbagai problem ekonomi, politik, sosial, dan lingkungan. Pemusatan kekuatan ekonomi, industri, dan sirkulasi finansial global di negara-negara industri maju -yang diikuti dengan program liberalisasi, privatisasi, dan restrukturisasi ekonomi di negara-negara Dunia Ketiga- sesungguhnya berdampak nyata pada problem struktural, seperti kemiskinan, pengangguran, tumpukan utang, kerusakan lingkungan, serta hilangnya kedaulatan politik dan hak-hak ekosob rakyat.
Kebijakan ekonomi politik global cenderung berwatak patriarkat. Rezim globalisasi memaksa negara-negara miskin dan sedang berkembang untuk mematuhi berbagai kebijakan, seperti liberalisasi, privatisasi, deregulasi, atau utang luar negeri di bawah kendali agen-agen kapitalisme global (seperti WTO, Bank Dunia, IMF, ADB, AfDB, dan sejenisnya). Kebijakan rezim globalisasi ini telah menjebak negara-negara Dunia Ketiga dalam lilitan krisis ekonomi dan jebakan utang. Kondisi ini berdampak pada pemangkasan berbagai mata anggaran subsidi dan jaminan sosial bagi rakyat miskin; yang mayoritas dihuni kelompok rentan, seperti perempuan dan anak-anak.





January 10th, 2010 at 8:32 pm
Setuju mbak memang sering kali perempuan yang sangat terasa dampak dari globalisasi, tentu perubahan dalam berpola ekonomi dan penataan kearah moderen.
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 11th, 2010 at 9:11 am
Selamat pagi Rosita, terima kasih kunjungannya, Sukses untuk anda.
Regards, agnes sekar
[Reply]
January 10th, 2010 at 9:10 pm
komen saya masuk spam, ya? Mohon dibebaskan, dong….
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 11th, 2010 at 9:13 am
Selamat pagi Alam, nanti saya chek dulu ya ? Terima kasih kunjungannya, Sukses untuk anda.
Regards, agnes sekar
[Reply]
January 10th, 2010 at 9:24 pm
RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk
MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 11th, 2010 at 9:14 am
Apa khabar Kang BOoed, kumaha damang ?
[Reply]
January 10th, 2010 at 9:25 pm
Mangstaaabbbss Mbaaake yang baik semoga selalu sehat dalam lindungan berkah ALLAH
Salam Sayang
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 11th, 2010 at 9:15 am
Okay….Kang..
[Reply]
January 10th, 2010 at 11:19 pm
Globaliusasi dan global warming selalu jadi kambing hitam di kala ibu pertiwi menunjukan kekuasaan nya terhadap manusia, salam kenal serta salam hangat dan jabat erat selalu dari Tabanan.
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 11th, 2010 at 9:17 am
Selamat pagi Sugeng, Terima kasih kunjungannya, Salam lagi dari Palangka Raya.
Regards, agnes sekar
[Reply]
January 10th, 2010 at 11:28 pm
Selamat Tahun Baru 2010
Hati Hati ARUS PERCEPATAN menimpa Nusantara
Sahabat semuanya tahun 2009 sudah di belakang kita..
DEMI MASA..
DEMI WAKTU..
WAL ASRI..
semuanya sudah kita lalui bersama sama..
Canda tawa riang Gembira Tangis suka duka nan pilu telah berlalu..
semua telah kembali ke alam LAMUNAN TUHAN..
Tahun 2010 akan datang Menyongsong kita semuanya..
Tahun 2010 akan segera kita jalani setapak demi setapak..
Semua itu masih menjadi RAHASIA TUHAN..
Sesungguhnya Masa yang akan Datang Masih Berada dalam Sirr nya TUHAN..
Bahkan Sirr/ubun ubun manusia selalu berada dalam Genggaman Tangan Tuhan
Sesungguhnya Hidup Manusia berada dalam Genggaman Tangan Tuhan..
Sahabat.. mari kita diam sejenak melamun di alam lamunan Tuhan..
Membuka kembali perjalanan Tahun 2009 yang baru kita lalui bersama sama..
Diam dalam tafakur perenungan diri yang dalam..
Bukankah waktu yang lalu adalah guru untuk ESOK lebih baik
Bukankah kita harus mengambil hikmah perjalanan kemarin demi perbaikan
Sahabat Jangan Sia Siakan Waktu sebelum waktu berbalik melindas kita
Mari kita benahi diri kita masing masing dan belajar serta terus belajar
Menemukan Tujuan Hidup Manusia dalam Kesadaran Sepenuhnya
Walau kemungkinan tahun 2010 akan berjalan dengan berat..
Keadaan mungkin semakin tiada menentu dan semakin sulit saja
Fenomena alam dan gejolaknya semakin kerap bertambah melanda
Tapi biarlah semua itu menjadi pelajaran untuk ber SEGERA
Segera melangkah membenahi diri.. diri lahir dan diri bathin..
Membenahi Perjalanan Lahiriah dan Perjalanan Bathiniah yang terabaikan
Ingat sahabatku semuanya sekali lagi bahwa dirimu meliputi lahir dan bathin
Jika tiba Saat dan Waktunya maka diri lahir akan kembali kepada tanah
Tetapi sekali lagi INGAT !!! karena diri Bathin akan bangkit melanjutkan perjalanan
Diri Bathin akan menuai hasil apa yang selama ini kita tanam dan perjuangkan
Menangis DARAHpun percuma saja jika kau lalai selama di sini
Sahabat mulailah berfikir untuk menata kehidupan bathin kita masing masing
Sebab ketahuilah kehidupan bathin adalah sebuah perjalanan spiritual panjang
Diri Lahiriah melambangkan nilai manusia di hadapan manusia lainnya..
Sedangkan Diri Bathiniah melambangkan Nilai Manusia dihadapan Tuhan..
yayaya.. Sesungguhnya NILAI MANUSIA dihadapan ALLAH ada di sini..
Sahabat biarlah tahun 2010 menjadi tahun kebangkitan bagi kita semua
Tahun 2010 menjadi Momentum Bangkitnya Kesadaran dalam Diri
Mari Sahabatku semuanya gapailah esok lebih baik dan lebih baik lagi
Sekali lagi MELANGKAHLAH SEGERA.. jangan SIA SIA kan waktumu..
Sebelum TERLAMBAT
Selamat Tahun Baru 2010
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 11th, 2010 at 9:23 am
Selamat pagi Kang Boed, semoga tahun yang baru kitapun diberi hati yang baru yang selalu setia dan taat pada peraturan hati yang berenergi, bersemangat .
[Reply]
January 11th, 2010 at 9:08 am
Pengaruh globalisas bagi perempuan memang merubah tatanan sosial juga seperti Ibu-Ibu lebih komsumtif dan lebih pilih-pilih barang yang bermerk, yang ngerinya masuk juga pengaruh global seperti film porno dll, Ya pokoknya globalisasi ada baik dan buruknya kita ambil yang baiknya dan buang buruknya, bukan begitu mbak ?
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 11th, 2010 at 9:24 am
Selamat pagi Ontohoed, terima kasih kunjungannya, Sukses untuk anda.
Regards, agnes sekar
[Reply]
January 11th, 2010 at 11:40 am
Assalamu’alaikum,
Kehidupan era global memang seringkali menyeret siapa saja untuk bergerak cepat menghadapi berbagai perubahan yg kadang tidak bisa diantisipasi, tapi dengan iman dan ketawakalan, InsyaAllah, dalam keaadan yang bagaimanapun, kita bisa tetap berada dijalan-Nya yang benar (Dewi Yana)
[Reply]
January 11th, 2010 at 11:42 am
Assalamu’alaikum,
Kehidupan era global memang seringkali menyeret siapa saja untuk bergerak cepat menghadapi berbagai perubahan yg kadang tidak bisa diantisipasi, tapi dengan iman dan ketawakalan, InsyaAllah, dalam keaadan yang bagaimanapun, kita bisa tetap berada dijalan-Nya yang benar. Komentar saya kemana ya, kok ngga tampil?(Dewi Yana)
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 11th, 2010 at 7:55 pm
Selamat malam Dewi,setuju pendapat anda, dengan dilingkupi keyakinan , Iman, ketawakalan, arus globalisasi bisa kita saring, yang baik kita pakai dan tidak baik kita abaikan, terima kasih kunjungannya, Sukses untuk anda.
Regards, agnes sekar
[Reply]
January 11th, 2010 at 2:22 pm
Salam Takzim
Sungguh sebuah sorotan tajam yang menambah keilmuan buat saya.
Sayapun pernah berdialog dengan tukang sapu wanita di bilangan ragunan Jakarta, ketika saya tanya bu mengapa ibu bekerja ditempat ini?, beliau menjawab yah mau kerja apa lagi mas kan cari kerja susah. ketika saya bertanya lagi memang kenapa ibu bekerja beliau kembali menjawab sambil mengelap keringat di wajahnya, “kalau saya tidak kerja saya makan apa juga anak dan suami saya”, terhentak kaget mendengar keluhannya. Saya tanya lagi memang bapak ga kerja, beliau menjawab ” kerja sih dulu tetapi sekarang sudah tidak karena kena PHK, mau kerja lagi kebentur umur mas”. Kemirisan saya menjadi. diakhir dialog saya selipkan sesuatu ke ibu, mata beliau berbinar.
Mungkin bukan hanya satu pekerja wanita dijalanan itu, tetapi banyak yang takut saya ajak bicara karena memang dia disuruh untuk bekerja dan tidak boleh banyak bicara
Ulasan diatas mengenai dampak globalisasi, memang perlu dijadikan sandaran bagi para birokrat dan pejabat agar mau memperhatikan derajat dan martabat seorang wanita.
Salam Takzim Batavusqu
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 11th, 2010 at 7:58 pm
Selamat malam Zipoer, wah… ulasannya luar biasa, terima kasih sharingnya, Sukses untuk Zipoer.
Regards, agnes sekar
[Reply]
January 12th, 2010 at 2:42 pm
sebagai perempuan ya tuntunannya harus bisa secara bujak dan smart mengatur keuangan rumah tangga agar tetap stabil dalam menghadapi dampak globalisasi ini, makasih uraiannya mba Agnes
[Reply]
January 12th, 2010 at 2:42 pm
sebagai perempuan ya tuntunannya harus bisa secara bijak dan smart mengatur keuangan rumah tangga agar tetap stabil dalam menghadapi dampak globalisasi ini, makasih uraiannya mba Agnes
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 12th, 2010 at 6:20 pm
Selamat malam mamah Aline, terima kasih kunjungannya, Sukses untuk anda.
Regards, agnes sekar
[Reply]
January 12th, 2010 at 8:02 pm
Bermula dari wacana interdependensi antar negara, dimana tidak ada sebuah negara yang dapat melepaskan diri dari kerjasama pihak asing, mendorong untuk saling membuka sekat ekonomi liberal. Sebenarnya yang diuntungkan itu siapa dari globalisasi? negara, barat, timur atau siapa? yang pasti yang menikmati adalah manusia yang hidup di era globalisasi tersebut. Lantas siapa yang kemudian dijadikan tumbal korban? karena tentu tidak akan semua orang merasa nyaman dengan sebuah sistem. dalam pandangan pribadi saya, globalisasi akan menguntungkan semua pihak kecuali mereka yang belum siap untuk bersaing dengan keberagaman kreativitas dan ide. Anda memiliki improvisasi serta ide-ide cemerlang? itu adalah modal untuk hidup di era globalisasi.
eniwei… makasih sudah share… tulisan yang menyegarkan. salam kenal :shakehand:
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 14th, 2010 at 8:22 am
Ada kalanya kita sering menemukan orang menganggap remeh tentang dampak dari Globalisasi, dan sama sekali tidak mengupayakan menyesuaikan dengan kondisi global yang memang mau tidak mau suka tidak suka harus dijalaninya. Tak mengherankan ia ditinggalkan oleh zaman dan masa depan menjadi asing dan aneh. Terima kasih sharingnya, Sukses untuk Andi.
Regards, agnes sekar
[Reply]
andi Reply:
January 15th, 2010 at 10:30 pm
jadi menurut ibu… apa sikap yang mesti kita ambil untuk ide FTA?
[Reply]
January 12th, 2010 at 11:32 pm
kalau menurutku sih bu..globalisasi mungkin bahkan menguntungkan kita dari segi harga..
akan banyak barang2 murah masuk ke indonesia..
yang sangat terpukul justru pengusaha2 indonesia khususnya…
bagi perempuan, dampak negatifnya mungkin iklim persaingan di dunia kerja salah satunya..
toh globalisasi berarti tiap orang juga dapat masuk ke untuk bekerja di indonesia kan?
salam kenal bu..
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 14th, 2010 at 8:29 am
Pengaruh lain dari Globalisasi adalah membuat kehidupan ini dikuasai oleh tirani urgensi yaitu mendesaknya cara kerja dan pengaturannya sendiri, dengan dalih ” Just On Time “, tirani urgensi dengan gaya pendadakan membuat kriteria aksi yang simple, fleksibelitas dan adaptasi menjadi azas absolut dalam pengambilan keputusan, keluwesan ini bisa saja membuahkan manfaat sesaat dalam moment yang tepat. Terima kasih sharingnya, Sukses untuk anda.
Regards, agnes sekar
[Reply]
January 13th, 2010 at 11:29 am
Mengunjungi di pagi hari untuk para sahabatku
Tetaplah berkarya dengan hati yang jernih dan memancarkan cahaya Tuhan.
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 14th, 2010 at 8:30 am
Okay thanks a lot, GBU.
Regards, agnes sekar
[Reply]
January 13th, 2010 at 1:10 pm
Jika memang demikian berarti kita memang harus siap menghadapinya. Siap dalam hal proteksi, penyediaan lapangan kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, siap membuat rakyat lebih sejahtera aman, dan damai dll. Yang paling penting kita siap menjaga kedaulatan negara dari segala bentuk rongrongan yang dapat mengoyahkan keutuhan negara kita. Sebab kita belum mengetahui secara nyata dan pasti bagaimana dampak globalisasi itu sendiri secara keseluruhan.
Salam,
HALAMAN PUTIH
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 14th, 2010 at 8:49 am
Secara esensial, suatu cara merespon langsung yang mengarah pd analisis, prakiraan dan pencegahan.Dikondikan untuk bertahan yang logikanya disiapkan untuk merespon tuntutan dari hasil instan, dari efektifitas yang langsung didapat dari usaha yang dilakukan, dan arus global. Terima kasih sharingnya,Trims
Regards, agnes sekar
[Reply]
January 13th, 2010 at 10:10 pm
Banyak juga korban gombalisasi, hehehe…
Sukses selalu.
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 14th, 2010 at 8:50 am
Okay thanks
[Reply]
January 13th, 2010 at 10:27 pm
apakah ini seperti emansipasi wanita yang kadang bertentangan dengan dogma bahakan agama, maaf ya teh klo komntarnya agak OOT, hehehe…
————–
scroll ke atas lagi ah…
liat adik kecil yang matanya kedip2 itu…
nggemesin bgt….
ntu anak siape teh…
[Reply]
Agnes Sekar Reply:
January 14th, 2010 at 8:52 am
Selamat pagi Yos, bisa ya, bisa tidak yang jelas siapapun pasti kena dampak global ini krn memang kondisinya harus demikian tapi yang paling dirasakan katanya ” Kaum perempuan ” benar nggak ya ?
[Reply]