
Suatu hari dalam perjalan Dinas di luar Daerah saya berbincang bincang dengan teman sesama peserta Diklat dari Daerah lain yang kebetulan di tempatkan sekamar dengan saya dalam Kegiatan Diklat Terapi dan Rehabilitasi Korban Narkoba .Perbincangan yang sangat menarik karena teman saya ini adalah Kepala Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat dari salah satu kota di Indonesia ini. Dia mengisahkan setiap hari selalu ditunggui pasien-pasiennya, yang semalam bisa mencapai 50 orang, dan memang benar belum ada satu hari kami di hotel tsb beberapa kali ia dihubungi oleh pasien-pasiennya, yang menanyakan kapan ia pulang, mereka sangat mengharapkan bahwa Dokter RSJ ini segera kembali . Kami berbincang-bincang tentang hidup dan kebijaksanaan yang harus seiring dan sejalan, apalagi jika orang tsb memiliki tanggung jawab yang besar. Berikut perbincangan kami : Dia mengatakan pasiennya rata-rata pejabat dan orang-orang penting , serta orang-orang kesohor di kotanya dimana ia tinggal . Kenapa demikian ? Psikiater itu mengatakan semakin besar tanggung jawab yang dia pikul sebesar itu pula dia memerlukan pertimbangan dan kebijaksanaan dan takala kebijaksanaan itu menjauh darinya, ricuhlah keadaannya sebab pertimbangan yang benar itu datangnya hanya dari ALLAH .Sebegitu pentingnya kebijaksanaan dalam tugas dan pekerjaan sebagai Pemimpin, sehingga Nabi Sulaiman meminta kepada ALLAH :
hati yang paham untuk menimbang suatu perkara pada saat dia menghakimi umat yang bersengketa atau menghadap suatu permasalahan, sehingga dengan demikian Sulaiman mampu membedakan apa yang baik dan yang jahat. Dengan demikian Sulaiman membutuhkan pengertian atau pengetahuan intelektualitas untuk mendeskripsikan dan menganalisis suatu kasus; dan pada pihak lain dia membutuhkan ketajaman spiritualitas dari Allah untuk membedakan secara tepat nilai-nilai yang baik dan yang buruk dengan tujuan mampu mengambil keputusan yang adil. Yang mana karunia hikmat dengan tekanan anugerah spiritualitas





Recent Comments