
Secara alamiah semua anak, sebelum mereka dewasa menerima pembinaan dari orang-orang Dewasa agar mereka dapat berkembang dan bertumbuh secara wajar. Sebab secara alamiah pula anak manusia membutuhkan pembimbingan seperti itu karena ia dibekali insting sedikit sekali untuk mempertahankan hidupnya. Dalam hal ini orang-orang yang berkewajiban membina anak secara alamiah adalah orang tua mereka masing-masing, warga masyarakat, dan tokoh-tokohnya.Sistem pendidikan adalah sistem yang menempati posisi yang sangat strategis, dalam pembentukan mental bangsa di masa mendatang. Apalagi peserta didik yang sebagian besar terlibat dalam pendidikan di berbagai bangku sekolah maupun kampus, adalah nota bene generasi muda sebagai raw material. Guru dan dosen adalah pejabat professional, sebab mereka diberi tunjangan professional. Namun walaupun mereka secara format pejabat professional, banyak kalangan yang tidak meyakini keprofesionalan mereka, terutama guru-guru. Masyarakat pada umumnya melihat kenyataan bahwa banyak sekali guru maupun dosen melakukan pekerjaan yang tidak memberi keputusan kepada mereka. Selain itu ada pandangan bahwa pekerjaan mendidik dapat dilakukan oleh siapa saja. Lagi pula pejabat-pejabat professional yang lain juga tidak semuanya bekerja dengan memuaskan. Suatu jabatan dikatakan professional, kalau hanya pejabat yang bersangkutan bias melaksanakan tugas tersebut. Masyarakat menginginkan guru atau dosen dapat bekerja secara professional seperti :1. Bekerja full time.2. Memiliki seperangkat pengetahuan,ilmu dan keterampilkan khusus yg diperoleh lewat pendidikan dan latihan.3. membuat keputusan dalam menyelesaian pekerjaan dengan kliennya. 4. Pekerjaan berorientasi kepada pelayanan, bukan untuk kepentingan pribadi.5. Memiliki kekuatan dan status yang tinggi sebagai eksper dalam spesialisasinya. 6. Keahlian itu tidak boleh di advertensikan untuk mencari klien.
Dunia Pendidikan Indonesia dewasa ini seperti yang dilansir oleh banyak media telah banyak mendapat sorotan pemerhati dari luar negeri perihal kemerosotannya. Hal ini pun telah diakui oleh segenap pakar pedagogis kita.
Sorotan tentang rendahnya mutu pendidikan di Indonesia terlihat dari laporan International Education Achievement (IEA). Menurut IEA, kemampuan membaca untuk tingkat SD siswa Indonesia berada dalam urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara kemampuan matematika siswa SLTP Indonesia berada dalam urutan ke-39 dari 42 negara.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet.





October 20th, 2010 at 5:24 pm
Jika cara mengajar dan apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita hari ini sama saja dengan yang kemarin, maka kita merampas masa depan anak didik kita tersebut.
Artinya, ilmu pengetahuan dan kemampuan hidup berkembang terus. Jika fakta ini tidak kita pahami dan lalu ajarkan pada murid kita, maka kita tidak mempersiapkan mereka dengan baik untuk menghadapi tantangan masa depan yang jelas berbeda dari masa sekarang.
~ J ohn Dewey ~
[Reply]
agnes sekar Reply:
October 20th, 2010 at 7:01 pm
Selamat malam Agus, setuju pendapatnya, karena kita harus menjadi agent perubahan kearah yang lebih maju dan sesuai dengan perkembangan zaman, mengisi hal-hal yang kurang dengan yang lebih baik okay ?, trims ya.
[Reply]
October 20th, 2010 at 6:50 pm
Selama ini memang yang ada kenyataannya demikian guru dan Dosen banyak yang tidak profesional, semua karena tuntutan perut, sehingga mengorbankan profesinya, semoga ke depan hal ini dapat diatasi.
[Reply]
agnes sekar Reply:
October 20th, 2010 at 7:02 pm
Selamat malam Parmin terima kasih tanggapannya, Sukses untuk anda.
[Reply]
October 21st, 2010 at 10:34 am
Mbak Sekar….saya bangga masuk blog punya perempuan yang kontennya mendidik, sarat ilmu dan saya menikmati tulisan yang ada. Mbak apakah bisa membantu saya dalam kesulitan mengembangkan blog seperti punya mbak Sekar ini ? Mohon bantuannya mbak… kita sering ketemuan di DPR yg duduk samping kanan kedua dari baris tengah, trims bantuannya.
[Reply]
agnes sekar Reply:
October 21st, 2010 at 11:13 am
Selamat siang Sogi, senang berkenalan dengan anda, wah…. wah… saya tersanjung dengar komentar anda, tapi kalau untuk sharing saya siap untuk membantu, Okay saya langsung ke TKP, trims ya sudah mampir.
[Reply]
October 21st, 2010 at 9:31 pm
Selamat malam Bu AGnes, sebelumnya saya mohon maaf, karena telah memasukkan/menautkan blog ibu di Komunitas JANAH, supaya kami bisa mengikuti artikel ibu
Selanjutnya sebagai bagian dari guru, saya merasa senang jika ada yang mengkritisi kompetensi dan profesionalitas guru-guru kita. Selain itu juga kritikan kepada pengelola guru seperti orang-orang di dinas pendidikan dan LPMP juga perlu terus disuarakan, agar pendidikan kita lebih bermartabat
[Reply]
agnes sekar Reply:
October 22nd, 2010 at 2:24 pm
Selamat sore Budies, tersanjung bisa dimasukkan artikel ” Janah ” apa ya artinya.. betul Budies bahwa hal disampaikan seperti Pendidikan gaya bank” merupakan pola hubungan kontradiksi yang saling menekan. Ketika pengajar (guru) ditempatkan pada posisi di atas, maka peserta didik (murid) harus berada di bawah dengan menerima tekanan-tekanan otoritas sang guru. Oleh karena itu pendidikan seperti ini hanya akan melahirkan penindasan dan tidak sesuai dengan fitrah. Dengan model hubungan seperti ini memungkinkan pendidikan itu berjalan secara dialogis dan partisipatoris. Trims ya sudah mampir.
[Reply]
October 23rd, 2010 at 12:07 am
selamat malam bu….
manusia indonesia telah mengubah keadaan indonesia menjadi begini, karena perubahan dibuat oleh manusia sendiri,
kelihatnya orang indonesia ini telah kehilangan rasa tanggung jawab, kemanusiaan, jati diri, sepertinya mereka menganggap hidup di dunia ini sudah langgeng.
dari pusat sampai pendidik adalah satu komponen yang bertanggung jawab tentang pendidikan, kalau salah satu dari unsur komponen itu tidak bertanggung jawab, maka akan mempengaruhi semuanya.
harapan saya dari pusat sampai kependidik serta peserta didik satu persepsi dalam tanggung jawab bangsa kita.
salam rahayu
[Reply]
agnes sekar Reply:
October 24th, 2010 at 11:45 am
Selamat siang wowos, seperti dikatakan : Be driven by driven by missions rather than rules ” pemerintah harus melakukan aktivitas yang menekan kepada pencapaian apa yang merupakan ” misisnya ” dari pada menekan pada peraturan-2. Setiap pendidik diberi kelonggaran untuk menghasilkan sesuatu yang berguna sesuai misinya.
Regards, agnes sekar
[Reply]
October 23rd, 2010 at 9:52 pm
ada guru yang sering meninggalkan tugasnya walaupun itu profesinya hanya karena mau mencari lauk pauk disebabkan hingga saat ini tidak menerima tunjangan lauk pauk. Wajar kan ?
[Reply]
agnes sekar Reply:
October 24th, 2010 at 11:49 am
Yusami, seperti dikatakan : ” concentrat on earning money rather those of the bureaucracy “. Pemerintah harus mengutamakan pemenuhan kebutuhan masyarakat, juga dalam hal kesejahteraan guru-gurunya, trims ya ?
[Reply]
October 24th, 2010 at 11:20 am
Saya senang jika ada yg nulis tentang pendidikan dan memperhatikan tugas saya sebagai guru, di tepi sungai nun jauh di Desa tumbang Miri. Mbak Sekar Guru jangan hanya di tuntut profesinya saja karena
saya sudah 4 bulan belum gajian bagaimana saya harus menghidupi anak istri ?
[Reply]
agnes sekar Reply:
October 24th, 2010 at 11:54 am
Selamat siang Kasnijan seperti dikatakan ” Meet the needs of the customer rather those of the bureaucracy ” pemerintah harus mengutamakan pemenuhan kebutuhan masyarakat, termasuk gaji guru-guru tul nggak ?
[Reply]
October 24th, 2010 at 6:18 pm
guru sebagai tenaga profesional pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu yang diampunya. Pembentukan karakter dan penanaman mental kepada peserta didiknya adalah satu paket keharusan, jika tidak akan dihasilkan generasi yang pincang. selain itu upaya terus-menerus meningkatkan kompetensinya juga sebuah keniscayaan
terima kasih bu, telh memberi dukungan kepada teman-teman di barito timur
salam dari ampah
[Reply]
agnes sekar Reply:
November 1st, 2010 at 12:19 pm
Selamat pagi Budisastro maaf telat membalas karena kesibukan, terima kasih tanggapan yang menginspirasi saya dalam pendidikan di Daerah kita ini, trims ya..sharing yang menarik..
[Reply]
October 31st, 2010 at 6:20 am
Bagus sekali bu, sangat bermanfaat sekali bagi saya sebagai pendidik, sebagai bahan untuk instropeksi diri. Tidak jarang para pendidik saat ini melupakan tugas utamanya sebagai pendidik, padahal profesionalitas dalam pekerjaan sebagai pendidik menuntut seperti itu. salam.
[Reply]
agnes sekar Reply:
November 1st, 2010 at 12:20 pm
Selamat siang Iswadi, terima kasih tanggapan dan kunjungannya, Sukses untuk anda.
Regards, agnes sekar
[Reply]
November 1st, 2010 at 12:16 pm
Mbak Agnes yang cantik setuju tulisan Ibu saya merasa tersanjung Ibu memperhatikan pendidik seperti saya, kapan Ibu mengunjungi kami di Lamandau ? Sekali kali saya berencana undang Ibu untuk seminar Pendidikan, setuju ? trims Ibu yang pintar atas nalarannya.
[Reply]
November 2nd, 2010 at 1:46 am
sayang sekali, wajah pendidikan kita sekarang lebih berorientasi kepada kerja dari pada ke peningkatan SDM, hingga generasi sekarang memiliki “mental kuli” dari pada prestasi!
[Reply]
January 10th, 2012 at 7:24 pm
salam ibu Agnes,,,
mau tanya bu, sehubungan dengan peningkatan profesionalisme tenaga pendidik dan kependidikan khususnya d kalteng terutama di daerah terpencil dimana akses tranportasi dan komunikasi serta kompetensi kepsek dan pengawas sekolah yang belum memadai, kira2 trik-trik apa yang bisa dilakukan dalam upaya pengembangan profesionalisme tersebut? thanks atas adanya website ini..
Sukses selalu bu Agnes
[Reply]